Sebenarnya hari ini tidak ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan saya berangkat lebih pagi ke kantor, sehingga saya tidak sempat mengantarkan istri tercinta periksa rutin ke dokter. Tapi report by phone pun sudah membuat saya lega
Hari ini, sesuai jadwal dengan dr. Budi, istri saya harus cek kehamilan di RS Hermina Bogor. Hasil USG, bayi dalam kandungan istriku sudah memasuki minggu ke 15, namun tangan dan kaki sudah terbentuk, dan ketika di USG istriku dapat melihat kaki dan tangan mungil itu sedang menari-nari bebas dalam perut istriku. Betapa riang nya dia. Semoga Alloh memberikan kesehatan pada istri dan bayi ku, dan semoga ia dilahirkan dalam keadaan sempurna tak kurang sesuatu apa. Amin.
This is reflected my daily life, how I interact with my family, my neighbours, my collegues, my partner, etc...somehow I learn something from that, maybe you can take an advantage too by reading my blog... have a nice read
Monday, April 17, 2006
Tuesday, April 04, 2006
Las Minit
Hari ini adalah hari terakhir sebelum deadline. Besok kita akan melancong ke seberang dalam rangka dinas. Sebenarnya bisa dibilang lawatan kali ini ke negeri jiran relatif lebih rileks dibandingkan lawatan sebelumnya. Namun tetap saja sebagai manager asia saya masih tetap was-was apakah project kali ini bisa sesukses project yang lalu. Paling tidak tidak melakukan kesalahan yang sama dengan setahun lalu.
Sebenarnya sudah sejak kemarin persiapan keberangkatan sudah dilakukan. Namun memang kebiasaan lama yang las minit (aksen melayu) masih merajalela. Entah ya, tapi rasanya kok kurang sreg aja kalau persiapan dilakukan jauuuuuh hari sebelumnya. Pasti ada saja yang kurang. Walaupun lebih baik bersiap diri lebih awal dari pada terburu-buru dikejar waktu.
Bagi saya, las minit itu ada baiknya juga. Disaat-saat terakhir biasanya hal-hal yang tidak terpikirkan muncul begitu saja, aneh kan…agaknya terbalik dengan kebanyakan orang. Namun kalau sudah las minit, biasanya saya selalu membayangkan tengah berada pada saat hari H….nah ini yang bisa membuka mata dan pikiran saya jadi lebih peka terhadap project….aneh? gak juga…saya enjoy tuh.
Sebenarnya sudah sejak kemarin persiapan keberangkatan sudah dilakukan. Namun memang kebiasaan lama yang las minit (aksen melayu) masih merajalela. Entah ya, tapi rasanya kok kurang sreg aja kalau persiapan dilakukan jauuuuuh hari sebelumnya. Pasti ada saja yang kurang. Walaupun lebih baik bersiap diri lebih awal dari pada terburu-buru dikejar waktu.
Bagi saya, las minit itu ada baiknya juga. Disaat-saat terakhir biasanya hal-hal yang tidak terpikirkan muncul begitu saja, aneh kan…agaknya terbalik dengan kebanyakan orang. Namun kalau sudah las minit, biasanya saya selalu membayangkan tengah berada pada saat hari H….nah ini yang bisa membuka mata dan pikiran saya jadi lebih peka terhadap project….aneh? gak juga…saya enjoy tuh.
Monday, April 03, 2006
Deg-Degan
Hari ini mungkin saya terlalu pagi sampai di kantor, jam masih menunjukkan pukul 9 kurang lima belas menit. Mungkin karena ini hari pertama setelah liburan panjang kemarin, Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu… lumayan panjang kan.
Jadi saya lalui pagi sepi ini dengan membaca Koran langganan kantor yang setiap pagi selalu datang on-time. Jam 9 lewat lima menit, belum juga ada yang datang. Saya pikir kalau ini kantor pemerintahan mungkin hal seperti ini lumrah, tapi kalau perusahaan swasta berskala besar, karyawan ku sudah kehilangan uang makan hari ini. Untungnya kami adalah perusahaan swasta yang belum besar, sehingga batas toleransi masih sangat lebar.
Sembilan lewan sepuluh menit, sekertaris merangkap keuangan merangkap tim sukses, berlalu lewat ruangan saya. “Pagi pak”, sapanya… sekadar chit-chat tentang liburan kemarin. Rupanya dia sudah berada di ruangannya sejak pukul delapan tigapuluh, namun karena lampu ruangan tersebut belum dia nyalakan, saya jadi berfikir belum ada orang di ruangan tersebut… hhhmm…ternyata ada yang lebih pagi dari ku. Hari beranjak siang dan kesibukan di kantor mulai berjalan.
Suasana tiba-tiba cerah dan ramai, siapa lagi yang membuat keramaian itu kalau bukan Shierly, field manager kami. Sejak kehadirannya 5 bulan yang lalu, suasana kantor kami memang jadi lebih hidup, ini semua karena level audio yang di hasilkan dari pita suara shierly terhitung diatas ambang desible hahaha… but it’s ok. We like it.
Seperti biasa, si nona ini langsung me-report kan survey minggu lalu langsung ke meja saya. Dan mulailah cerita demi cerita mengalir dari mulutnya, ada yang seru ada yang sekadar basa-basi, tapi lebih banyak serunya. Setiap cerita dari team field memang selalu seru.
Seperti yang dilaporkannya kali ini. Akhir minggu lalu shierly dan team melakukan central location di daerah TIM. Beberapa surveyor yang diboyongnya kali ini memang lumayan cantik dan ‘gaul’ untuk ukuran surveyor. Trik ini dilakukan shierly agar responden bersedia dan mudah di wawancara. (Saya tidak tahu apakah ini termasuk pelecehan gender? Mudah-mudahan tidak). Salah seorang surveyor (tentunya cantik) sedang melakukan screening terhadap seorang bapak (bahasa halus untuk om-om). Dan ketika semua syarat screening telah dipenuhi, mulailah si surveyor mewawancarai si bapak tadi. Sepertinya kejadian biasa, tapi jadi tidak biasa karena si bapak membawa surveyor cantik tadi ke dalam mobil…Tak ayal shierly panik bukan alang, dia takut kalau si cantik dibawa kabur oleh di om…
Perhatian dipanteng terus ke arah mobil si om. Lima menit berlalu, masih ok. Masuk ke menit 10 shierly mulai was-was, karena tak biasanya wawancara selama itu untuk ukuran kuesioner simple. Dengan mengendap-endap shierly mulai mengintai mobil si om dari jarak kurang dari semeter. Saking khawatirnya, langsung saja si mobil om dilabrak dengan dalih, masih ada tugas lain untuk si surveyor cantik. Ketika kaca mobil si om dibuka, rupanya memang wawancara masih berlangsung, namun sang field manager tak mau kehilangan muka juga, di depan si om. Dengan pede nya dia mengambil alih wawancara… hahaha… lain kali wawancara gak boleh dilakukan di mobil responden ya neng…kasian kan mbak shierly sport-jantung….
Jadi saya lalui pagi sepi ini dengan membaca Koran langganan kantor yang setiap pagi selalu datang on-time. Jam 9 lewat lima menit, belum juga ada yang datang. Saya pikir kalau ini kantor pemerintahan mungkin hal seperti ini lumrah, tapi kalau perusahaan swasta berskala besar, karyawan ku sudah kehilangan uang makan hari ini. Untungnya kami adalah perusahaan swasta yang belum besar, sehingga batas toleransi masih sangat lebar.
Sembilan lewan sepuluh menit, sekertaris merangkap keuangan merangkap tim sukses, berlalu lewat ruangan saya. “Pagi pak”, sapanya… sekadar chit-chat tentang liburan kemarin. Rupanya dia sudah berada di ruangannya sejak pukul delapan tigapuluh, namun karena lampu ruangan tersebut belum dia nyalakan, saya jadi berfikir belum ada orang di ruangan tersebut… hhhmm…ternyata ada yang lebih pagi dari ku. Hari beranjak siang dan kesibukan di kantor mulai berjalan.
Suasana tiba-tiba cerah dan ramai, siapa lagi yang membuat keramaian itu kalau bukan Shierly, field manager kami. Sejak kehadirannya 5 bulan yang lalu, suasana kantor kami memang jadi lebih hidup, ini semua karena level audio yang di hasilkan dari pita suara shierly terhitung diatas ambang desible hahaha… but it’s ok. We like it.
Seperti biasa, si nona ini langsung me-report kan survey minggu lalu langsung ke meja saya. Dan mulailah cerita demi cerita mengalir dari mulutnya, ada yang seru ada yang sekadar basa-basi, tapi lebih banyak serunya. Setiap cerita dari team field memang selalu seru.
Seperti yang dilaporkannya kali ini. Akhir minggu lalu shierly dan team melakukan central location di daerah TIM. Beberapa surveyor yang diboyongnya kali ini memang lumayan cantik dan ‘gaul’ untuk ukuran surveyor. Trik ini dilakukan shierly agar responden bersedia dan mudah di wawancara. (Saya tidak tahu apakah ini termasuk pelecehan gender? Mudah-mudahan tidak). Salah seorang surveyor (tentunya cantik) sedang melakukan screening terhadap seorang bapak (bahasa halus untuk om-om). Dan ketika semua syarat screening telah dipenuhi, mulailah si surveyor mewawancarai si bapak tadi. Sepertinya kejadian biasa, tapi jadi tidak biasa karena si bapak membawa surveyor cantik tadi ke dalam mobil…Tak ayal shierly panik bukan alang, dia takut kalau si cantik dibawa kabur oleh di om…
Perhatian dipanteng terus ke arah mobil si om. Lima menit berlalu, masih ok. Masuk ke menit 10 shierly mulai was-was, karena tak biasanya wawancara selama itu untuk ukuran kuesioner simple. Dengan mengendap-endap shierly mulai mengintai mobil si om dari jarak kurang dari semeter. Saking khawatirnya, langsung saja si mobil om dilabrak dengan dalih, masih ada tugas lain untuk si surveyor cantik. Ketika kaca mobil si om dibuka, rupanya memang wawancara masih berlangsung, namun sang field manager tak mau kehilangan muka juga, di depan si om. Dengan pede nya dia mengambil alih wawancara… hahaha… lain kali wawancara gak boleh dilakukan di mobil responden ya neng…kasian kan mbak shierly sport-jantung….
Wednesday, March 29, 2006
Depok, Pusyiiing
Hari ini saya harus ke Depok. Sebenarnya malas juga sih mampir di kota kampus ini, tapi juga kangen karena sudah lama saya tidak mampir ke depok. Tak kurang 5 tahun saya kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang berkampus di kota ini.
Kenapa malas mampir ke depok? Macet, Sumpek, Hingar-Bingar. Itu beberapa alasan yang paling cepat mucul dalam benak saya. Apalagi sekarang.
Turun di stasiun pondok cina. Dari sini saja perubahan pesat sudah terlihat. Sepanjang jalan sempit yang saya lalui dari stasiun pondok cina ke margonda sudah banyak yang berubah. BERUBAH TOTAL. Dulu, di pintu masuk gang masih ada empang yang lumayan besar, kadang-kadang ada orang mancing disini, dan lebih seru lagi kalau sedang panen ikan, semua orang (khususnya pemilik empang dan keluarganya) nyemplung di empang tersebut sambil membawa jala berharap dapat mengeduk ikan-ikan yang ada di empang tersebut. Saat ini empang tersebut tinggal kenangan. Yang menggantikannya adalah rumah-rumah sederhana yang sepertinya masing-masing rumah berlomba-lomba untuk berdagang. Berdagang apa saja. Beberapa yang sempat saya perhatikan adalah warung kelontong skala kecil, rumah makan, depot sembako, rumah makan lagi, dan rental komputer. Tak hanya itu, rumah kos pun bertambah. Kalau dulu seingat saya hanya ada beberapa rumah kos di sepanjang gang tersebut, sekarang, banyak sekali rumah kos (yang keliatannya masih baru) yang sedang memamerkan informasi tentang kosnya di sepangjang gang tersebut. Sumpek, itu kesannya.
Realitas ini agaknya dipacu oleh perkembangan kota depok yang semakin hari semakin mempercantik diri dengan bertambahnya beberapa pusat-pusat keramaian, artinya bertambah juga pusat-pusat keramaian. Semakin jauh saya menyusuri gang sempit ini (aduh, saya kok gak tau ya apa nama gang ini – mungkin gang akses UI), semakin jelas belantara keramaian di depan saya…
Agak gagap juga awalnya. Dulu kalau saya sedang menyususi gang ini dengan teman atau pacar, paling hanya ada beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Namun hari ini terasa berbeda, entah sudah berapa puluh orang yang saya papasi sejak saya mulai menyusuri gang ini, ini artinya ada pusat keramaian di depan sana.
Benar kan, setibanya di ujung gang, segalanya berubah total. Di sebelah kiri depan saya sudah ada TB GRAMEDIA, di sebelah kanannya (yang dulunya kuburan cina) terpampang megah MARGO CITY. Agak shock juga, karena di sebelah kanan saya (berseberangan dengan MARGO CITY) Depok Town Square (DETOS) tampaknya gak mau ketinggalan adu jumawa dengan Margo City. Pusyiiiingg…. Jalan margonda yang tidak seberapa lebar tampaknya mulai kehabisan napas untuk menampung puluhan angkot yang ‘ngetem’ di depan kedua Mall ini. Apa yang salah dengan pengelolaan kota ini ya… Kok sepertinya Pemkot Depok tidak memikirkan kenyamanan kotanya demi menggenjot pendapatan kota dari mal-mal baru ini.
Sudahlah, saya tidak mau semaking pusing (ini adalah akar kecanduan kopi yang saya alami di kantor) memikirkan depok. Toh ini bukan kota saya, kota saya saat ini adalah Cilebut. Dibanding depok, Cilebut masih relatif asri, nyaman, dan bersih. Paling tidak setiap pagi saya masih lihat kabut (eh kabut apa asap pembakaran sampah depok ya…) dan pemandangan gunung salak yang menyeruak diantara awan. Please jangan ubah Cilebut seperti Depok dong….
Kenapa malas mampir ke depok? Macet, Sumpek, Hingar-Bingar. Itu beberapa alasan yang paling cepat mucul dalam benak saya. Apalagi sekarang.
Turun di stasiun pondok cina. Dari sini saja perubahan pesat sudah terlihat. Sepanjang jalan sempit yang saya lalui dari stasiun pondok cina ke margonda sudah banyak yang berubah. BERUBAH TOTAL. Dulu, di pintu masuk gang masih ada empang yang lumayan besar, kadang-kadang ada orang mancing disini, dan lebih seru lagi kalau sedang panen ikan, semua orang (khususnya pemilik empang dan keluarganya) nyemplung di empang tersebut sambil membawa jala berharap dapat mengeduk ikan-ikan yang ada di empang tersebut. Saat ini empang tersebut tinggal kenangan. Yang menggantikannya adalah rumah-rumah sederhana yang sepertinya masing-masing rumah berlomba-lomba untuk berdagang. Berdagang apa saja. Beberapa yang sempat saya perhatikan adalah warung kelontong skala kecil, rumah makan, depot sembako, rumah makan lagi, dan rental komputer. Tak hanya itu, rumah kos pun bertambah. Kalau dulu seingat saya hanya ada beberapa rumah kos di sepanjang gang tersebut, sekarang, banyak sekali rumah kos (yang keliatannya masih baru) yang sedang memamerkan informasi tentang kosnya di sepangjang gang tersebut. Sumpek, itu kesannya.
Realitas ini agaknya dipacu oleh perkembangan kota depok yang semakin hari semakin mempercantik diri dengan bertambahnya beberapa pusat-pusat keramaian, artinya bertambah juga pusat-pusat keramaian. Semakin jauh saya menyusuri gang sempit ini (aduh, saya kok gak tau ya apa nama gang ini – mungkin gang akses UI), semakin jelas belantara keramaian di depan saya…
Agak gagap juga awalnya. Dulu kalau saya sedang menyususi gang ini dengan teman atau pacar, paling hanya ada beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Namun hari ini terasa berbeda, entah sudah berapa puluh orang yang saya papasi sejak saya mulai menyusuri gang ini, ini artinya ada pusat keramaian di depan sana.
Benar kan, setibanya di ujung gang, segalanya berubah total. Di sebelah kiri depan saya sudah ada TB GRAMEDIA, di sebelah kanannya (yang dulunya kuburan cina) terpampang megah MARGO CITY. Agak shock juga, karena di sebelah kanan saya (berseberangan dengan MARGO CITY) Depok Town Square (DETOS) tampaknya gak mau ketinggalan adu jumawa dengan Margo City. Pusyiiiingg…. Jalan margonda yang tidak seberapa lebar tampaknya mulai kehabisan napas untuk menampung puluhan angkot yang ‘ngetem’ di depan kedua Mall ini. Apa yang salah dengan pengelolaan kota ini ya… Kok sepertinya Pemkot Depok tidak memikirkan kenyamanan kotanya demi menggenjot pendapatan kota dari mal-mal baru ini.
Sudahlah, saya tidak mau semaking pusing (ini adalah akar kecanduan kopi yang saya alami di kantor) memikirkan depok. Toh ini bukan kota saya, kota saya saat ini adalah Cilebut. Dibanding depok, Cilebut masih relatif asri, nyaman, dan bersih. Paling tidak setiap pagi saya masih lihat kabut (eh kabut apa asap pembakaran sampah depok ya…) dan pemandangan gunung salak yang menyeruak diantara awan. Please jangan ubah Cilebut seperti Depok dong….
Subscribe to:
Posts (Atom)