Hari ini saya harus ke Depok. Sebenarnya malas juga sih mampir di kota kampus ini, tapi juga kangen karena sudah lama saya tidak mampir ke depok. Tak kurang 5 tahun saya kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang berkampus di kota ini.
Kenapa malas mampir ke depok? Macet, Sumpek, Hingar-Bingar. Itu beberapa alasan yang paling cepat mucul dalam benak saya. Apalagi sekarang.
Turun di stasiun pondok cina. Dari sini saja perubahan pesat sudah terlihat. Sepanjang jalan sempit yang saya lalui dari stasiun pondok cina ke margonda sudah banyak yang berubah. BERUBAH TOTAL. Dulu, di pintu masuk gang masih ada empang yang lumayan besar, kadang-kadang ada orang mancing disini, dan lebih seru lagi kalau sedang panen ikan, semua orang (khususnya pemilik empang dan keluarganya) nyemplung di empang tersebut sambil membawa jala berharap dapat mengeduk ikan-ikan yang ada di empang tersebut. Saat ini empang tersebut tinggal kenangan. Yang menggantikannya adalah rumah-rumah sederhana yang sepertinya masing-masing rumah berlomba-lomba untuk berdagang. Berdagang apa saja. Beberapa yang sempat saya perhatikan adalah warung kelontong skala kecil, rumah makan, depot sembako, rumah makan lagi, dan rental komputer. Tak hanya itu, rumah kos pun bertambah. Kalau dulu seingat saya hanya ada beberapa rumah kos di sepanjang gang tersebut, sekarang, banyak sekali rumah kos (yang keliatannya masih baru) yang sedang memamerkan informasi tentang kosnya di sepangjang gang tersebut. Sumpek, itu kesannya.
Realitas ini agaknya dipacu oleh perkembangan kota depok yang semakin hari semakin mempercantik diri dengan bertambahnya beberapa pusat-pusat keramaian, artinya bertambah juga pusat-pusat keramaian. Semakin jauh saya menyusuri gang sempit ini (aduh, saya kok gak tau ya apa nama gang ini – mungkin gang akses UI), semakin jelas belantara keramaian di depan saya…
Agak gagap juga awalnya. Dulu kalau saya sedang menyususi gang ini dengan teman atau pacar, paling hanya ada beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Namun hari ini terasa berbeda, entah sudah berapa puluh orang yang saya papasi sejak saya mulai menyusuri gang ini, ini artinya ada pusat keramaian di depan sana.
Benar kan, setibanya di ujung gang, segalanya berubah total. Di sebelah kiri depan saya sudah ada TB GRAMEDIA, di sebelah kanannya (yang dulunya kuburan cina) terpampang megah MARGO CITY. Agak shock juga, karena di sebelah kanan saya (berseberangan dengan MARGO CITY) Depok Town Square (DETOS) tampaknya gak mau ketinggalan adu jumawa dengan Margo City. Pusyiiiingg…. Jalan margonda yang tidak seberapa lebar tampaknya mulai kehabisan napas untuk menampung puluhan angkot yang ‘ngetem’ di depan kedua Mall ini. Apa yang salah dengan pengelolaan kota ini ya… Kok sepertinya Pemkot Depok tidak memikirkan kenyamanan kotanya demi menggenjot pendapatan kota dari mal-mal baru ini.
Sudahlah, saya tidak mau semaking pusing (ini adalah akar kecanduan kopi yang saya alami di kantor) memikirkan depok. Toh ini bukan kota saya, kota saya saat ini adalah Cilebut. Dibanding depok, Cilebut masih relatif asri, nyaman, dan bersih. Paling tidak setiap pagi saya masih lihat kabut (eh kabut apa asap pembakaran sampah depok ya…) dan pemandangan gunung salak yang menyeruak diantara awan. Please jangan ubah Cilebut seperti Depok dong….